Terlalu sering suaramu menggetarku
Sehingga kepalaku hanya penuh hening
Hening itu kuat dan berkuasa
Kekuatan itu menghempas fikirku
Keluar lewat telinga
Menggelinding dengan rongsok lainnya
Terlalu hening, setelah kusadari
Sehingga mulutku pun bergerak
Hampir membentuk diftong-diftong
Namun menolak suara
Bukan menolak, hanya tak bisa
Leher dan hatiku hanya bisa dingin
Tanpa tujuan, mereka ada
Sekarang sudah kututup jalanmu
Untuk menelusuri ke pedalaman asaku
Rutemu hilang, rutemu hilang!
Dan mau seribu kali kau ucapkan,
Mau seribu kali kau tuangkan,
Mau seribu kali kau bisikkan,
Mau seribu kali kau teriakkan,
Tak kan kau tahu kau sakiti aku
Karena hatiku dingin dan ideku telah tumpah
Karena pedalaman jiwaku tak tercapai
Karena aku tak lagi peduli
Karena bagiku, engkau tak pernah ada
Saturday, February 21, 2009
Thursday, February 5, 2009
Mata Yang Tak Terbuka
Di ujung ruang ia duduk
Dengan memar dan luka di sekujur tubuhnya
Matanya tertutup
Curahan hati mengalir dari dalamnya
Amis memenuhi ruang itu
Membuat penciuman tak mau mencium
Merah, semuanya mengalir deras, darah!
Ia masih menutup matanya
Lalu datanglah kering
Ruangan itu membusuk
Habis hingga binatang penghabisan pun lapar
Ia masih menutup matanya
Sekarang ruang itu hilang
Dan hanya sisa, lantai yang diinjaknya
Semua terang
Terbukalah semua dinding penghalang
Tetapi ia,
Ia masih menutup matanya
Hujan, petir, badai, dan malam
Mata yang tak mendengar, terbuka
Baginya semua masih sama
Gelap, hanya gelap
Dengan memar dan luka di sekujur tubuhnya
Matanya tertutup
Curahan hati mengalir dari dalamnya
Amis memenuhi ruang itu
Membuat penciuman tak mau mencium
Merah, semuanya mengalir deras, darah!
Ia masih menutup matanya
Lalu datanglah kering
Ruangan itu membusuk
Habis hingga binatang penghabisan pun lapar
Ia masih menutup matanya
Sekarang ruang itu hilang
Dan hanya sisa, lantai yang diinjaknya
Semua terang
Terbukalah semua dinding penghalang
Tetapi ia,
Ia masih menutup matanya
Hujan, petir, badai, dan malam
Mata yang tak mendengar, terbuka
Baginya semua masih sama
Gelap, hanya gelap
Tuesday, February 3, 2009
Di Atas Daun Kering
Mencari jejak sunyi masa lampau
Kutundukan kepala
Kulihat daun kering dihembuskan angin
Menerjang perlahan-lahan
Mendekati kaki, mimpi dimulai
Sebelum waktuku, mereka berkumpul
Sebelum waktuku,mereka memeluk
Sebelum waktuku,mereka tidak tahu
Namun waktu,
Waktu tak tahu toleransi
Waktu berjalan terlalu cepat
Tak mau ia menunggu
Kuinjakkan ke dalam lantai bandara
Kakiku ini, juga hati yang bertahun-tahun dibangun
Pedih rasanya, pergi
Pergi begitu saja
Menciptakan kontras di atas lembaran masa depanku
Sekarang aku berdiri di atas lembar penantian
Masih kosong melompong
Dengan cipratan musim kemarau
Dengan tangan bergetar dan mengepal
Aku tak tahu kemana harus melangkah
Tangan yang membantuku telah pergi
Binasa ditelan waktu
Tergantikan dengan ombak laut
Dengan alam baru yang menciptakan kebingungan
Aku pun tenggelam di dalamnya
Gelap,
Mencari sinar-Nya
Namun kemana aku harus mencari?
Kembali aku ke dalam pencarian
Di atas tumpukan daun kering
Tak mau melangkah
Kutundukan kepala
Kulihat daun kering dihembuskan angin
Menerjang perlahan-lahan
Mendekati kaki, mimpi dimulai
Sebelum waktuku, mereka berkumpul
Sebelum waktuku,mereka memeluk
Sebelum waktuku,mereka tidak tahu
Namun waktu,
Waktu tak tahu toleransi
Waktu berjalan terlalu cepat
Tak mau ia menunggu
Kuinjakkan ke dalam lantai bandara
Kakiku ini, juga hati yang bertahun-tahun dibangun
Pedih rasanya, pergi
Pergi begitu saja
Menciptakan kontras di atas lembaran masa depanku
Sekarang aku berdiri di atas lembar penantian
Masih kosong melompong
Dengan cipratan musim kemarau
Dengan tangan bergetar dan mengepal
Aku tak tahu kemana harus melangkah
Tangan yang membantuku telah pergi
Binasa ditelan waktu
Tergantikan dengan ombak laut
Dengan alam baru yang menciptakan kebingungan
Aku pun tenggelam di dalamnya
Gelap,
Mencari sinar-Nya
Namun kemana aku harus mencari?
Kembali aku ke dalam pencarian
Di atas tumpukan daun kering
Tak mau melangkah
Subscribe to:
Comments (Atom)