Saturday, February 21, 2009

Tak Kan Kau Tahu Kau Sakiti Aku

Terlalu sering suaramu menggetarku
Sehingga kepalaku hanya penuh hening
Hening itu kuat dan berkuasa
Kekuatan itu menghempas fikirku
Keluar lewat telinga
Menggelinding dengan rongsok lainnya

Terlalu hening, setelah kusadari
Sehingga mulutku pun bergerak
Hampir membentuk diftong-diftong
Namun menolak suara
Bukan menolak, hanya tak bisa

Leher dan hatiku hanya bisa dingin
Tanpa tujuan, mereka ada
Sekarang sudah kututup jalanmu
Untuk menelusuri ke pedalaman asaku
Rutemu hilang, rutemu hilang!

Dan mau seribu kali kau ucapkan,
Mau seribu kali kau tuangkan,
Mau seribu kali kau bisikkan,
Mau seribu kali kau teriakkan,
Tak kan kau tahu kau sakiti aku

Karena hatiku dingin dan ideku telah tumpah

Karena pedalaman jiwaku tak tercapai

Karena aku tak lagi peduli

Karena bagiku, engkau tak pernah ada

Thursday, February 5, 2009

Mata Yang Tak Terbuka

Di ujung ruang ia duduk
Dengan memar dan luka di sekujur tubuhnya
Matanya tertutup
Curahan hati mengalir dari dalamnya

Amis memenuhi ruang itu
Membuat penciuman tak mau mencium
Merah, semuanya mengalir deras, darah!
Ia masih menutup matanya

Lalu datanglah kering
Ruangan itu membusuk
Habis hingga binatang penghabisan pun lapar
Ia masih menutup matanya

Sekarang ruang itu hilang
Dan hanya sisa, lantai yang diinjaknya
Semua terang
Terbukalah semua dinding penghalang
Tetapi ia,
Ia masih menutup matanya

Hujan, petir, badai, dan malam
Mata yang tak mendengar, terbuka
Baginya semua masih sama
Gelap, hanya gelap

Tuesday, February 3, 2009

Di Atas Daun Kering

Mencari jejak sunyi masa lampau
Kutundukan kepala
Kulihat daun kering dihembuskan angin
Menerjang perlahan-lahan
Mendekati kaki, mimpi dimulai

Sebelum waktuku, mereka berkumpul
Sebelum waktuku,mereka memeluk
Sebelum waktuku,mereka tidak tahu

Namun waktu,
Waktu tak tahu toleransi
Waktu berjalan terlalu cepat
Tak mau ia menunggu

Kuinjakkan ke dalam lantai bandara
Kakiku ini, juga hati yang bertahun-tahun dibangun
Pedih rasanya, pergi
Pergi begitu saja
Menciptakan kontras di atas lembaran masa depanku

Sekarang aku berdiri di atas lembar penantian
Masih kosong melompong
Dengan cipratan musim kemarau
Dengan tangan bergetar dan mengepal

Aku tak tahu kemana harus melangkah

Tangan yang membantuku telah pergi
Binasa ditelan waktu
Tergantikan dengan ombak laut
Dengan alam baru yang menciptakan kebingungan

Aku pun tenggelam di dalamnya
Gelap,
Mencari sinar-Nya
Namun kemana aku harus mencari?

Kembali aku ke dalam pencarian
Di atas tumpukan daun kering
Tak mau melangkah