Di ujung ruang ia duduk
Dengan memar dan luka di sekujur tubuhnya
Matanya tertutup
Curahan hati mengalir dari dalamnya
Amis memenuhi ruang itu
Membuat penciuman tak mau mencium
Merah, semuanya mengalir deras, darah!
Ia masih menutup matanya
Lalu datanglah kering
Ruangan itu membusuk
Habis hingga binatang penghabisan pun lapar
Ia masih menutup matanya
Sekarang ruang itu hilang
Dan hanya sisa, lantai yang diinjaknya
Semua terang
Terbukalah semua dinding penghalang
Tetapi ia,
Ia masih menutup matanya
Hujan, petir, badai, dan malam
Mata yang tak mendengar, terbuka
Baginya semua masih sama
Gelap, hanya gelap
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment